Showing posts with label Alkitab. Show all posts
Showing posts with label Alkitab. Show all posts
Friday, December 28, 2012
Kekayaan di Ujung Jari
Beberapa tahun yang silam, Mr. Marsh mendapati bahwa namanya termasuk dalam surat wasiat tantenya.
Wasiatnya berbunyi, Untuk Steven Marsh tersayang, saya menyerahkan Alkitab keluarga beserta semua isinya, dan semua harta saya yang tersisa.
Setelah semua hutang-hutang terbayar, hanya beberapa ratus dolar yang tersisa.
Dalam waktu yang singkat, uang tersebut telah habis, dan yang tersisa hanyalah sebuah Alkitab yang Mr.Marsh simpan dalam sebuah peti di loteng.
Steven Marsh harus hidup dengan gaji pensiun yang sangat minim, sehingga ia hidup dalam kemiskinan selama kurang lebih tiga puluh tahun lamanya.
Akhirnya, ketika ia berusia sembilan puluh tahun, ia memutuskan untuk hidup bersama dengan anaknya.
Ketika ia sedang mengepak barang-barangnya, ia menemukan Alkitab yang dulu diwariskan oleh tantenya, dan ia mulai membuka lembaran demi lembaran. Mr. Marsh terkejut ketika ia menemukan lembaran uang yang terselip di antara halaman demi halaman, dan ketika ia menghitung uang yang ada, ia mendapat lebih dari lima ribu dolar, yang merupakan jumlah yang sangat besar untuk saat itu.
Ia hidup dalam kemiskinan, padahal ia bisa hidup dalam kekayaan.
Ia memiliki kekayaan di ujung jarinya, dalam buku Alkitab. Ada kemungkinannya juga bahwa kita memiliki kekayaan di ujung jari kita.
Thursday, June 21, 2012
Mary Jones dan Alkitabnya
200 tahun yang lalu hiduplah seorang anak gadis berusia 10 tahun bernama Mary Jones di Wales, I Inggris.
Pada jaman itu Alkitab sangat jarang dan mahal. Alkitab terdekat yang Mary tahu adalah di rumah peternakan Ny.Evans yang jauhnya dua mil dari rumah Mary.
Suatu hari Mary berpakaian bagus untuk pergi ke peternakan
di mana Alkitab itu berada. Di sana Mary bertanya
kepada Ny. Evans, apakah dia boleh membaca Alkitab itu bagi dirinya sendiri
sebentar saja. "Tentu saja boleh, asalkan
kamu membacanya dengan hati-hati," kata Ny. Evans. Dan Mary ditinggalkan
sendiri diruangan itu bersama dengan Firman Allah.
Dia takut untuk menyentuhnya. Kemudian dengan hati-hati dibukanya Alkitab itu, dan dan ayat pertama yang dia Baca adalah "Kamu menyelidiki kitab-kitab suci .............itu memberikan kesaksian tentang Aku." "Oh, saya mau, saya mau," teriak Mary. "Seandainya saya mempunyai Alkitab sendiri!" Dan sewaktu berjalan pulang dia menetapkan bahwa dia harus bekerja dan menabung setiap sen yang diperolehnya sampai cukup untuk membeli sebuah Alkitab.
Dapatkah kamu tebak berapa lama dia harus menabung? Enam tahun! Dan pada suatu hari yang cerah dia pergi ke kota Bala, 25 mil jauhnya, dia mendengar Dr. Thomas Charles di kota itu mempunyai beberapa Alkitab untuk dijual. Dia berjalan dengan telanjang kaki, untuk menghemat sepatu dan stokingnya, tapi ada nyanyian dalam hatinya karena dia segera akan memiliki sebuah Alkitab sebagi milik pribadinya.
Malam itu dia menginap di rumah Tn.Edward, dan pagi-pagi sekali di menyebrang jalan menuju rumah Dr. Charles. Dia genggam uangnya ditangan dan dengan gemetar meminta Alkitab. Dia memandang dengan penuh harap wajah Dr. Charles, ingin tahu apa jawabnya. Akhir dengan wajah sedih dia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Maaf Mary, anakku, tak ada lagi Alkitab yang dapat kujual. Saya punya beberapa Alkitab, tapi semuanya telah dibayar orang. Tak ada satupun lagi! Mary tak dapat menyembunyikan kekecewaan diwajahnya' dia sedih dan menangis. Dr. Charles tua itu tidak tahan melihatnya menangis, dan akhimya berkata, "Hapuslah air matamu Mary. Saya akan memberikan satu untukmu. Biarlah orang lain menunggu."
Mary berjalan pulang 25 mil lagi, dengan sukacita memiliki Alkitab. Tapi Dr. Charles tak dapat melupakan air mata Mary. Dia pergi ke London dan menceritakan kisah tentang Mary dan Alkitabnya kepada teman-temannya, dan hasilnya adalah mereka memutuskan bahwa setiap orang yang ingin memiliki Alkitab harus mendapatkannya.
Pada 1804 mereka mendirikan British and Foreign Bible Society. Badan ini telah mencetak bejuta-juta Alkitab sejak saat itu.
Ketika Mary Jones meninggal
mereka meletakkan Alkitabnya dalam tempat kaca di gedung British and Foreign
Bible Society. Anda dapat melihatnya jika anda memiliki kesempatan untuk pergi ke Inggris. Tidakkah kamu juga ingin
membaca Alkitabmu lebih banyak lagi?
Friday, June 15, 2012
Pemburu Kepala Manusia yang diburu
Aku melayangkan mataku ke
gunung-gunung; dari manakah akan datang
pertolonganku? Pertolonganku
ialah dari TUHAN, yang menciptakan langit dan bumi. Mazmur 121 1, 2.
Berikut ini adalah cerita tentang Faole dan cara TUHAN menolongnya.
Pada saat Faole dibabtis, ada sebuah panggilan untuk membuka ladang misi baru di desa Maibikee, dua hari perjalanan jauhnya dari Port Moresby, sebuah desa di wilayah pantai. Siapakah yang diutus ke sana?
Ya, Faole, istrinya, dan anaknya yang masih kecil! Faole
membangun desa baru, gereja baru, sekolah baru, dan penduduk desa itu sangat mencintai keluarga Faole serta
gaya hidup yang mereka ajarkan. Di balik gunung tempat Faole tinggal, ada sebuah desa yang tidak mengenal
TUHAN.
Kepala desa tersebut sangat marah ketika mengetahui perubahan yang terjadi di desa Maibikee. Penduduk
desa ini tidak mau adat istiadat nenek moyang mereka yang tidak mengenal TUHAN itu diubah.
Suatu hari, kepala desa tersebut tiba-tiba meninggal. Dukun di desa itu mempersalahkan Faole, dan memutuskan untuk menghukum mati Faole dan keluarganya.
50 prajurit desa itu bersiap untuk menyerang desa Maibikee. Mereka mengasah tombak, mengoles racun pada Ujung anak panah, mengecat tubuh mereka, dan bersiap untuk menyerang ketika malam tiba.
Kabar rencana penyerangan ini sampai di desa Maibikee. Penduduk desa Maibikee segera melarikan diri ke dalam hutan dan memohon kepada keluarga Faole untuk ikut bersembunyi bersama mereka. Faole tahu akan bahaya itu, tapi ia tidak mau melarikan diri.
la mengambil Alkitabnya dan membaca, Malaikat-malaikat Tuhan berkemah mengelilingi orang yang takut akan Dia dan membebaskan mereka". Lalu ia berkata kepada istri dan anaknya, "Jangan takut. Pergilah tidur. Allah akan menolong kita".
Malam itu mereka tidur dengan tenang. Tak ada yang terjadi pada malam itu, demikian juga pada malam-malam berikutnya. Kabar tentang ancaman terhadap desa Maibikee sampai ke telinga misionaris di Port Moresby dan ia datang ke Maibikee untuk mengetahui keadaan terakhir.
Misionaris ini melihat bahwa penduduk desa Maibikee baik-baik saja. Lalu misionaris ini pergi ke desa di seberang gunung itu dan menjumpai bahwa para pria di desa itu dalam keadaan murung dan marah.
Sementara para wanitanya menertawai para pria itu. Kepala desa yang baru menjelaskan, "Anda tahu mengapa saya tidak jadi menyerang desa Maibikee. Bagaimana saya bisa membunuh Faole jika anda dan banyak prang lainnya yang berpakaian putih mengelilingi rumah Faole sepanjang malam".
ltulah rahasianya, Allah Faole telah mengirimkan pertolongan ketika Faole sangat membutuhkannya.
Ketika engkau membutuhkan pertolongan, layangkanlah pandanganmu kepada Allah. Allah telah berjanji mengirimkan pertolongan kepadamu pada saat engkau membutuhkannya.
Renungan Pagi Menyelamatkan Nyawa Sebuah Keluarga
Nyanyikanlah bagi Tuhan nyanyian baru! Sebab Tuhan berkenan kepada umatNya, la memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan.
Mazmur 149 :1-4.
Buku Mazmur
ditutup dengan satu nasihat "Biarlah segala yang bernapas memuji
Tuhan". Menyanyi adalah salah satu bentuk pujian, dan alasan memuji TUHAN melalui menyanyi
adalah...."Sebab TUHAN berkenan kepada umatNya".
Merupakan kesukaan bagi Allah mengirimkan malaikat-Nya untuk menolong dan melindungi umat-Nya, Allah juga senang menerima ucapan terimakasih dan pujian dari umat-umat-Nya melalui doa dan nyanyian.
Berikut ini cerita tentang Faole dan caranya memuji Tuhan. Ketika Faole beranjak tua, ia ingin tinggal di pegunungan di mana ia dibesarkan. Jadi ladang misi baru dibuka di desa Enevologo. dan Faole menjadi misionaris di sana. lamembangun gereja baru.
Menjelang gereja itu diresmikan, pihak musuh, pada Perang Dunia II, menyerang pegunungan itu. Mereka membunuh setiap orang yang diduga berpihak kepada Aliansi dan membakar desa mereka. Ketika musuh semakin mendekati tempat mereka, Faole memerintahkan kepada penduduk desanya untuk melarikan diri.
Saat itu anak-anak kandung Faole sudah dewasa semua, tetapi Faole mengambil beberapa anak yatim untuk tinggal bersama-sama dengan dia. Faole bersembunyi tidak jauh dari desanya sehingga ia tetap dapat mengawasi keadaan desanya. Faole pergi ke seberang sungai dan membangun gubuk di dalam hutan. Pada hari Sabat malam, Faole bermimpi bahwa bahaya datang mendekat. Jadi sebelum fajar menyingsing, Faole membawa semua anak-anak yang bersama dengan dia bersembunyi di hutan.
Beberapa menit kemudian, pesawat-pesawat musuh menjatuhkan bom di desa Enevologo dan desa itu hancur berantakan. Tak lama kemudian, tentara-tentara Aliansi memasuki hutan untuk mencari musuh yang bersembunyi. "Ada musuh di sana," bisik salah seorang tentara sambil menunjuk sebuah gubuk rumput yang rapi.
Para tentara ini mendengar orang-orang yang
sedang berbicara dari dalam gubuk itu. "Mereka pasti pimpinan dan para
staff musuh: bisik seorang tentara. Mereka mengarahkan senjata mereka ke arah pintu
gubuk bersiap menarik pelatuk bila ada orang yang keluar dari gubuk itu. Menit
berikutnya mereka mendengar suara nyanyian ''Jalan serta Yesus slalu
sejahtera...." "Aman," kata pemimpin pasukan Aliansi itu.
"Tidak ada musuh di gubuk itu". Dan memang tak ada musuh di gubuk
itu! Mereka adalah Faole dan anak-anak angkatnya yang sedang memuji Tuhan pada
kebaktian pagi mereka.
Jadikanlah suatu kebiasaan untuk memuji Tuhan dalam kebaktian keluarga kita.
Seorang Kanibal yang Bertobat
Mazmur 119:105 Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.
Semakin gelap malam, semakin terang sinar berpancar. Maka sebagai gambaran bagaimana Alkitab menjadi terang bagi jalan seseorang, mari saya ceritakan kepadamu kisah tentang Papua Nugini yang gelap.
Jauh kebelakang di tahun 1870-an lahirlah seorang anak lelaki kecil di antara suku Kanibal (pemakan manusia) di pegunungan Papua Nugini. Ibunya menamakan dia Faole. Ketika berumur 15 tahun, dia mulai membunuh manusia untuk yang pertama kali, oleh karena sebuah alasan sederhana " itu adalah kebiasaan dari para pemburu kepala." Pembunuhan ini rupanya membangkitkan dalam dirinya rasa haus darah, dan tak lama kemudian dia telah membunuh seorang laki-laki dan dua orang perempuan, dan seorang lagi.
Waktu itu Faole terkenal jahat dan ditakuti. Beberapa tahun kemudian ibunya meninggal. Hal ini membuat dirinya marah, di pergi keluar rumah dan membunuh lagi dua orang manusia. Kemudian pemerintah mengerahkan polisi-polisinya untuk mencari dan menangkap dia, dan akhirnya dia di masukkan dalam penjara. Pada waktu dia selesai menjalani hukumannya, ada sebuah misi Advent di Efogi, di daerah pegunungannya, dan meskipun sekarang dia sudah berumur 50 tahun, dia datang menghadap kepada misionari dan dia ingin bersekolah. Di sanalah dia menemukan sebuah Alkitab, dan segera dia belajar untuk membacanya.
Segera terang bersinar, dan suatu perubahan besar terjadi padanya. Dia membersihkan tubuhnya, pakaiannya, dan rumahnya. Dia menjadi seorang yang bersahabat, dan 'siapa saja yang mempunyai masalah, datang kepada Faole meminta penghiburan. Inilah Faole yang menjadi teman bagi tentara-tentara aliansi dan bertanggung jawab bagi pemberi pertolongan pertama (palang merah) yang membawa Para tentara yang terluka ke rumah sakit.
Pada satu kesempatan dia berusaha memimpin rombongan tentara Australia, yang baru saja mundur dari garis depan musuh, ke belakang garis belakang, tapi mereka tersesat. Faole mengumpulkan orang-orang itu dan berkata,"Saya mohon maaf, kita telah tersesat," Orang-orang itu sudah merasa lapar, dan lelah dan putus asa, tapi Faole mengajak mereka semua berlutut sementara dia berdoa kepada TUHAN, berilah petunjuk arah kemana kami harus berjalan. Setelah selesai berdoa, Faole berbalik arah , seperti apa yang telah dikesankan Tuhan kepadanya, dan dalam satu jam mereka sudah tiba dengan selamat di garis belakang! Oh, sungguh sangat berbeda, suatu perubahan yang luar biasa! Itu semua karena orang yang berada dalam kegelapan berjalan mengikuti "terang bagi jalanku."
Priscilla J. Owens pasti sudah pernah melihat kuasa Alkitab dan merasakannya ketika dia menulis hymne yang kita kenal dan sering nyanyikan:
Brilah padaku Alkitab yang suci, lampu yang t’rangi sluruh jalanku.
lsinya syarat, taurat, kasih, janji, yang pimpin aku dalam hidupku.
Kamu akan membutuhkan terang ini dan Tuhan pemilik terang itu ada dalam hidupmu juga. Bacalah , dan pelajarilah sekarang, dan itu akan menjadi terang bagi jalanmu!
Alkitab, Percayakah Anda Kepadanya?

















