Friday, October 3, 2014

RUWET TETAPI INDAH



Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.

Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut, "Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini...nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas."

Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil, "Anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu." 

Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.

Kemudian ibu berkata, "Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan."

Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah, "Allah, apa yang Engkau lakukan?" 

Ia menjawab, "Aku sedang menyulam kehidupanmu." 

Dan aku membantah, "Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?" 

Kemudian Allah menjawab, "Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaan-Ku di bumi ini... Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuan-Ku, dan kamu akan melihat rencana-Ku yang indah dari sisi-Ku."

Friday, September 26, 2014

Seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu...


Roy Angel adalah seorang hamba Tuhan yang miskin tapi dia memiliki kakak yang milyuner. Pada tahun 1940, ketika bisnis minyak bumi sedang memuncak, kakaknya menjual padang rumput di Texas pada saat yang tepat dengan harga yang sangat tinggi. Seketika itu juga kakaknya menjadi kaya raya, lalu dia menginvestasikan uangnya pada saham perusahaan besar dan memperoleh untung yang berlipat. Kakaknya tinggal di apartemen mewah di New York dan memiliki kantor di Wallstreet.

Seminggu sebelum hari Natal, kakaknya menghadiahi Roy Angel sebuah mobil baru yang mewah dan mengkilap. Suatu pagi... ada seorang anak gelandangan yang menatap mobilnya dengan penuh kekaguman.

"Hai... nak," sapa Roy

Anak itu melihat pada Roy dan bertanya, "Apakah ini mobil Tuan?"

"Ya," jawab Roy singkat.

"Berapa harganya Tuan?"

"Sesungguhnya saya tidak tahu harganya berapa."

"Mengapa Tuan tidak tahu harganya, bukankah Tuan yang punya mobil ini?" tanya gelandangan kecil itu penuh heran.

"Saya tidak tahu karena mobil ini hadiah dari kakak saya."

Mendengar jawaban itu mata anak itu melebar dan bergumam, "Seandainya... seandainya..."

Roy mengira dia tahu persis apa yang didambakan anak gelandangan kecil ini... Anak ini pasti berharap memiliki kakak yang sama seperti kakakku...

Ternyata Roy salah menduga... saat anak itu melanjutkan kata-katanya, "Seandainya... seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu..."

Dengan masih terheran-heran, Roy mengajak anak itu berkeliling dengan mobilnya. Anak itu tak henti-henti memuji keindahan mobilnya. Sampai satu saat anak itu berkata, "Tuan, bersediakah Tuan mampir ke rumah saya? Letaknya hanya beberapa blok dari sini."

Sekali lagi Roy mengira dia tahu apa yang ingin dilakukan anak ini... Pasti anak ini ingin memperlihatkan pada teman-temannya bahwa ia telah naik mobil mewah... pikir Roy.

"Oke, mengapa tidak," kata Roy sambil menuju arah rumah anak itu.

Tiba di sudut jalan si anak gelandangan memohon pada Roy untuk berhenti sejenak, "Tuan, bersediakah Tuan menunggu sebentar? Saya akan segera kembali."

Anak itu berlari menuju rumah gubuknya yang sudah tua. Setelah menunggu hampir sepuluh menit, Roy mulai penasaran apa yang dilakukan anak itu dan dia keluar dari mobilnya sambil menatap rumah gubuk itu. Kemudian dia mendengar suara kaki yang berjalan perlahan-lahan. Beberapa saat kemudian anak gelandangan itu keluar sambil menggendong adiknya yang lumpuh.

Setelah tiba di dekat mobil, anak gelandangan itu berkata pada adiknya, "Lihat... seperti yang kakak bilang padamu. Ini mobil terbaru. Kakak Tuan ini menghadiahkannya pada Tuan ini. Suatu saat nanti kakak akan membelikan mobil seperti ini untukmu."

Seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu...

Pertolongan di Saat Gelap


Pukul setengah dua belas malam, seorang wanita negro rapi yang sudah berumur sedang berdiri di tepi jalan tol Alabama. Ia nampak mencoba bertahan dalam hujan yang sangat deras yang hampir seperti badai. Mobilnya sedang rusak dan dia ingin menumpang mobil yang lewat.

Dalam keadaan basah kuyup, ia mencoba menghentikan setiap mobil yang lewat. Mobil berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia berhenti untuk menolong ibu ini. Kelihatannya si pemuda bule ini tidak paham akan konflik etnis yang terjadi saat itu di tahun 1960-an.

Pemuda bule ini akhirnya membawa si ibu negro dengan selamat hingga ke suatu tempat untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan taksi untuk ibu ini. Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa, si ibu sempat bertanya tentang alamat pemuda itu. Si pemuda lalu menuliskan alamatnya, dan ibu negro itu segera pergi sambil mengucapkan terima kasih pada si pemuda.

7 hari berlalu dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule ini diketuk seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang ternyata kiriman sebuah TV set besar berwarna (barang yang mewah di tahun 1960-an) khusus dikirim ke rumahnya. Sebuah surat kecil tertempel di TV tersebut, yang isinya adalah:


"Terima kasih nak, karena membantuku di jalan tol pada malam itu. Hujan tidak hanya membasahi bajuku, tetapi juga jiwaku. Untung saja anda datang dan menolong saya. Karena pertolongan anda, saya masih sempat untuk hadir di sisi suamiku yang sedang sekarat... hingga wafatnya. Tuhan memberkati anda, karena membantu saya dan tidak mementingkan dirimu pada saat itu."

Tertanda, Ny. Nat King Cole.

(Catatan: Nat King Cole adalah penyanyi negro yang terkenal di USA pada tahun 1960-an)