Tuesday, May 5, 2015

Majalah Online Adventist World 2015





Sunday, May 3, 2015

Khotbah-Khotbah Rohani (Powerpoint / Word)

Selamat datang di halaman Download/Unduh Khotbah-Khotbah Rohani.

Di halaman ini kita dapat mengunduh Khotbah-Khotbah yang dapat digunakan dalam pelayanan dalam Kebaktian dan lain sebagainya. Sebagian besar bahan-bahan ini adalah dalam bentuk Outline/garis besar, kita dapat mengeditnya dengan bebas sesuai dengan kebutuhan masing-masing. 

Untuk membuka file-file Khotbah ini, sebaiknya menggunakan Microsoft Word 2010 atau 2013.

Selamat belajar dan selamat melayani TUHAN!

Yesaya  55:11 
demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.

2 Timotius 3:16,17
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

(Klik pada judul untuk mengunduh langsung)

1.  Perumpamaan Tentang Seorang Penabur (Dual Language), Powerpoint,18mb





2.  Orang Samaria yang Baik Hati (Dual Language), Powerpoint, 14 mb






3.  Umat yang Sisa, Powerpoint, 9 mb






4.  Setia Sampai Mati (Kisah kesetiaan para rasul) Powerpoint, 20 mb





5.  Anak yang Hilang, Powerpoint, 18mb









7.  Doa (Disertai dengan Kutipan-kutipan Roh Nubuat), Powerpoint, 8mb


































Download Software Rohani

Selamat datang di halaman Download/Unduh Software Rohani.

Di halaman ini kita dapat mengunduh software-software yang berhubungan dengan Alkitab, Al-Quran, pelayanan dalam Kebaktian dan lain sebagainya.

File-file ini kami kemas dalam Format RAR untuk memudahkan proses unduhan, untuk mengekstraknya kita dapat menggunakan beberapa software seperti: Winrar, Winzip, Izarc, ataupun 7-zip, dan kami juga telah menyediakannya di alamat link berikut ini:

1. Winrar  (Dalam proses)
2. IzArc  (Dalam proses)
3. 7-Zip  (Dalam proses)

Sebelum mengextract file, silahkan non aktifkan Antivirus di komputer anda, beberapa Antivirus akan mendeteksi Keygen yang disertakan sebagai ancaman (Virus/Malware/Spyware), tetapi kami sudah memeriksanya dan Keygen yang disertakan adalah aman.

Selamat mengunduh dan selamat melayani TUHAN!

(Klik pada judul untuk mengunduh langsung)


1.   Alkitab Rohani 2.0  :  Untuk PC/Notebook  : 312 mb




2.  E.G. White Reasearch : Untuk PC/Notebook : 493 mb




3.   Al-Quran Digital : Untuk PC/Notebook : 9 Mb




4.   Easy Worship V.14 : Untuk PC/Notebook : 20 mb





Tuesday, March 31, 2015

Saturday, December 27, 2014

Friday, November 14, 2014

Gajah Dan 7 Orang Buta

Dahulu kala, terdapatlah seorang raja yang mengalami kerepotan dengan para menterinya. Mereka terlalu banyak berbantah sehingga nyaris tak satupun keputusan dapat diambil. Para menteri itu mengikuti tradisi politik kuno, masing-masing menyatakan bahwa dirinyalah yang paling benar dan yang lainnya salah. Meskipun demikian, ketika sang raja yang penuh kuasa menggelar perayaan festival umum, mereka semua bisa sepakat untuk cuti bersama.

Festival yang luar bisa itu digelar di sebuah stadion besar. Ada nyanyian dan tarian, akrobat, badut, musik dan banyak lagi. Dan di puncak acara, di kerumunan banyak orang, dengan para menteri yang tentunya menempati tempat duduk terbaik, sang raja menuntun sendiri gajah ke tengah arena. Di belakang gajah itu berjalanlah tujuh orang buta yang telah diketahui oleh umum sebagai orang-orang yang buta sejak lahir.

Sang raja meraih tangan orang buta pertama, menuntunnya untuk meraba belalai gajah itu dan memberitahunya bahwa itulah gajah. Raja lalu membantu orang buta kedua untuk meraba gading sang gajah, orang buta ketiga meraba kupingnya, yang keempat meraba kepalanya, yang kelima meraba badannya, yang keenam meraba kaki, dan yang ketujuh meraba ekornya, lalu menyatakan kepada masing-masing orang buta bahwa itulah yang dinamakan gajah.

Lalu raja kembali kepada si buta pertama dan memintanya untuk menyebutkan dengan lantang seperti apakah gajah itu.

"Menurut pertimbangan dan pendapat saya yang ahli ini," kata si buta pertama, yang meraba belalai gajah, "saya nyatakan dengan keyakinan penuh bahwa seekor ‘gajah’ adalah sejenis ular, marga python asiaticus."

"Sungguh omong kosong," seru si buta kedua yang meraba gading gajah. "Seekor ‘gajah’ terlalu keras untuk dianggap sebagai seeokr ular. Fakta sebenarnya, dan daya tak pernah salah, gajah itu seperti bajak petani."

"Jangan melucu," cemooh si buta ketiga yang meraba kuping gajah. "Seekor ‘gajah’adalah seperti daun kipas yang besar."

"Kalian idiot tak berguna!" tawa si buta keempat yang meraba kepala gajah. "Seekor ‘gajah’sudah pasti adalah sebuah gentong air yang besar."

"Mustahil! Benar-benar mustahil!," cibir si buta kelima yang meraba badan gajah. "Seekor ‘gajah’adalah sebuah batu karang besar."

"Dasar orang-orang picik!" seringai si buta terakhir yang meraba ekor gajah. "Aku akan memberitahu kalian apa sebenarnya ‘gajah’ itu. Seekor gajah adalah semacam pecut pengusir lalat. Aku tahu, aku dapat merasakannya."

"Sampah! Gajah itu seekor ular.". "Tidak bisa! Itu gentong air!". "Bukan! Gajah itu… " Dan para buta itu pun mulai berbantah dengan sengitnya, semuanya bicara berbarengan, menyebabkan kata-kata melebur menjadi teriakan-teriakan yang lantang dan panjang. Tatkala kata-kata penghinaan mulai mengudara, lantas datanglah jotosan. Para buta itu tidak yakin betul siapa yang mereka jotos, tetapi tampaknya itu tidak terlalu penting dalam tawuran semacam itu. Mereka sedang berjuang demi pronsip, demi integritas, demi kebenaran. Kebenaran masing-masing pada kenyataannya.

Saat prajurit raja melerai tawuran membuta diantara orang-orang buta itu, kerumunan hadirin di stadion terpaku diam dan wajah para menteri tampak malu. Setiap orang yang hadir menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh raja melalui pelajaran itu.

Seringkali kita tidak memahami sesuatu kebenaran di Alkitab secara keseluruhan, kita bahkan lebih suka melihatnya sebagian-sebagian, padahal maknanya jelas melenceng dari kebenaran yang sesungguhnya dan kebenaran yang sesungguhnya itu seringkali hanya dapat diperoleh melalui penyelidikan dan pengetahuan yang lengkap terhadap suatu konteks pelajaran yang dipelajari.

Friday, October 3, 2014

RUWET TETAPI INDAH



Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.

Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut, "Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini...nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas."

Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil, "Anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu." 

Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.

Kemudian ibu berkata, "Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan."

Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah, "Allah, apa yang Engkau lakukan?" 

Ia menjawab, "Aku sedang menyulam kehidupanmu." 

Dan aku membantah, "Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?" 

Kemudian Allah menjawab, "Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaan-Ku di bumi ini... Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuan-Ku, dan kamu akan melihat rencana-Ku yang indah dari sisi-Ku."

Friday, September 26, 2014

Seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu...


Roy Angel adalah seorang hamba Tuhan yang miskin tapi dia memiliki kakak yang milyuner. Pada tahun 1940, ketika bisnis minyak bumi sedang memuncak, kakaknya menjual padang rumput di Texas pada saat yang tepat dengan harga yang sangat tinggi. Seketika itu juga kakaknya menjadi kaya raya, lalu dia menginvestasikan uangnya pada saham perusahaan besar dan memperoleh untung yang berlipat. Kakaknya tinggal di apartemen mewah di New York dan memiliki kantor di Wallstreet.

Seminggu sebelum hari Natal, kakaknya menghadiahi Roy Angel sebuah mobil baru yang mewah dan mengkilap. Suatu pagi... ada seorang anak gelandangan yang menatap mobilnya dengan penuh kekaguman.

"Hai... nak," sapa Roy

Anak itu melihat pada Roy dan bertanya, "Apakah ini mobil Tuan?"

"Ya," jawab Roy singkat.

"Berapa harganya Tuan?"

"Sesungguhnya saya tidak tahu harganya berapa."

"Mengapa Tuan tidak tahu harganya, bukankah Tuan yang punya mobil ini?" tanya gelandangan kecil itu penuh heran.

"Saya tidak tahu karena mobil ini hadiah dari kakak saya."

Mendengar jawaban itu mata anak itu melebar dan bergumam, "Seandainya... seandainya..."

Roy mengira dia tahu persis apa yang didambakan anak gelandangan kecil ini... Anak ini pasti berharap memiliki kakak yang sama seperti kakakku...

Ternyata Roy salah menduga... saat anak itu melanjutkan kata-katanya, "Seandainya... seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu..."

Dengan masih terheran-heran, Roy mengajak anak itu berkeliling dengan mobilnya. Anak itu tak henti-henti memuji keindahan mobilnya. Sampai satu saat anak itu berkata, "Tuan, bersediakah Tuan mampir ke rumah saya? Letaknya hanya beberapa blok dari sini."

Sekali lagi Roy mengira dia tahu apa yang ingin dilakukan anak ini... Pasti anak ini ingin memperlihatkan pada teman-temannya bahwa ia telah naik mobil mewah... pikir Roy.

"Oke, mengapa tidak," kata Roy sambil menuju arah rumah anak itu.

Tiba di sudut jalan si anak gelandangan memohon pada Roy untuk berhenti sejenak, "Tuan, bersediakah Tuan menunggu sebentar? Saya akan segera kembali."

Anak itu berlari menuju rumah gubuknya yang sudah tua. Setelah menunggu hampir sepuluh menit, Roy mulai penasaran apa yang dilakukan anak itu dan dia keluar dari mobilnya sambil menatap rumah gubuk itu. Kemudian dia mendengar suara kaki yang berjalan perlahan-lahan. Beberapa saat kemudian anak gelandangan itu keluar sambil menggendong adiknya yang lumpuh.

Setelah tiba di dekat mobil, anak gelandangan itu berkata pada adiknya, "Lihat... seperti yang kakak bilang padamu. Ini mobil terbaru. Kakak Tuan ini menghadiahkannya pada Tuan ini. Suatu saat nanti kakak akan membelikan mobil seperti ini untukmu."

Seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu...