Saturday, August 16, 2014

Bahan-bahan Khotbah Rohani (Powerpoint)

Salam damai sejahtera kepada saudara-saudari dalam nama TUHAN!



Selamat datang di halaman unduhan (download) Bahan-bahan khotbah Rohani. Semua bahan-bahan yang tersedia di link halaman ini dapat diunduh dan dapat diedit,semoga kita dapat menggunakannya sebagai sarana yang baik untuk penyiaran Firman TUHAN.

Jika ada masalah dalam pengunduhan atau isi dari bahan-bahannya, silahkan tinggalkan pesan di kotak pesan atau menghubungi kami di nomor ponsel : 0819 237 827

Terima kasih atas kunjungannya, kiranya TUHAN memberkati kita semua!

Klik di sini untuk mengunduh!


Yesaya  55:11 
demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.

2 Timotius 3:16,17
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.





Tuesday, August 12, 2014

BERSABAR DALAM KEBAIKAN


Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya, "Ayah, ayah..." kata sang anak.

"Ada apa?" tanya sang ayah.

"Aku capek, sangat capek... aku capek karena aku belajar mati-matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek, aku mau menyontek saja! aku capek... sangat capek..."

"Aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! Aku capek, sangat capek..."

"Aku capek karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung, aku ingin jajan terus!"

"Aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga mulutku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati..."

"Aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman temanku, sedang teman-temanku seenaknya saja bersikap kepadaku..."

"Aku capek ayah, aku capek menahan diri... Aku ingin seperti mereka, mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah!" kata sang anak sambil menangis.

Sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata, "Anakku... Ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu," lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang.

Lalu sang anak pun mulai mengeluh, "Ayah mau kemana kita? Aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. Badanku dikelilingi oleh serangga, berjalan pun susah karena ada banyak ilalang, aku benci jalan ini ayah!" Namun sang ayah hanya diam.

Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah telaga yang sangat indah, airnya begitu segar, ada banyak kupu-kupu, bunga-bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang...

"Waaaaah... tempat apa ini ayah? Aku suka! Aku suka tempat ini!" kata sang anak. Namun sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.

"Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah..." ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.

"Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? Padahal tempat ini begitu indah?"

"Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?"

"Itu karena orang-orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tahu ada telaga indah di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu..."

"Oooh... berarti kita orang yang sabar ya yah?"

"Nah, akhirnya kau mengerti..."

"Mengerti apa? Aku tidak mengerti..."

"Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kejujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan yang kita lakukan agar kita mendapat kemenangan, seperti saat menyusuri jalan tadi...

"Bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melewati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga, namun pada akhirnya semuanya terbayar kan? Ada telaga yang sangat indah yang menjadi upahnya... Seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? Kau tidak akan mendapat apa-apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku..."

"Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar..."

"Aku tahu, oleh karena itu ada ayah bersamamu yang akan menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat..."


Galatia  6
6:9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.


Monday, August 11, 2014

TUHAN ATAU BERKAT-NYA

Seorang ayah setiap pulang dari luar kota atau berpergian jauh, sering membawakan hadiah berupa mainan kepada anaknya yang masih kecil. Dia ingin melalui pemberian tersebut, anaknya akan dekat dengannya. Itulah cara yang paling sederhana dilakukannya untuk melepas kangen. Namun, kemudian ia menjadi sedih ketika mainan yang ia berikan tersebut justru menjauhkan ia dari anaknya. Ternyata anaknya sekarang justru lebih asyik dengan mainan yang dia berikan, daripada dengan dia yang memberikan mainan tersebut.

Terkadang itu juga merupakan gambaran kita dengan Tuhan. Begitu sering Tuhan memberkati kita dan memberikan yang terbaik kepada kita dengan tujuan agar kita dekat dengan DIA. Nyatanya yang terjadi tidak seperti itu, kita sekarang lebih asyik dengan berkat yang DIA berikan sehingga kita hampir-hampir tidak memiliki waktu untuk Sang Pemberi berkat. Jika kita yang adalah bapa di dunia saja pasti kecewa melihat reaksi anak kita yang seperti itu, demikian juga hati Bapa ketika melihat berkat yang Dia beri justru menjauhkan kita dari-Nya.


Orang tua pasti akan kecewa jika ternyata anaknya tidak pernah kangen dengan dia, tapi “kangen” dengan mainan atau oleh-oleh yang dibawanya. Demikian juga kita bisa membayangkan hati Bapa di Surga saat kita tidak pernah merindukan Pribadi-Nya, tapi hanya merindukan berkat-berkat-Nya.

Sesungguhnya tidak ada yang paling menyenangkan Tuhan di saat kita selalu rindu untuk berjumpa, bersekutu dan menjalin keintiman dengan-Nya.

Jadilah anak Tuhan yang dewasa yang lebih merindukan Pribadi-Nya daripada berkat-berkat-Nya.

Yohanes 6:26 "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang."

Wednesday, July 2, 2014

Friday, June 20, 2014

KISAH NYATA PENGORBANAN SEORANG IBU SAAT TERJADI GEMPA HEBAT DI JEPANG

Ini adalah kisah nyata Pengorbanan seorang Ibu selama Gempa di Jepang. Setelah Gempa telah mereda, ketika para penyelamat mencapai reruntuhan rumah seorang wanita muda, mereka melihat mayat-nya melalui celah-celah.

Tapi wanita tersebut berpose begitu aneh, dia berposisi seperti melindungi sesuatu; tubuhnya condong ke depan, dan dua tangan yang mendukung oleh suatu benda. Rumah roboh telah menimpa punggung dan kepalanya.

Dengan begitu banyak kesulitan, pemimpin tim penyelamat meletakkan tangannya melalui celah sempit di dinding untuk mencapai tubuh wanita itu. Dia berharap bahwa wanita ini bisa jadi masih hidup. Namun, tubuh dingin dan kaku menandakan bahwa wanita tsb pasti telah meninggal.

Pemimpin tim dan seluruh anggota tim lalu meninggalkan rumah ini dan akan mencari gedung yang runtuh berikutnya. Namun karena alasan tertentu, pemimpin tim terdorong untuk kembali ke rumah hancur dari wanita tadi.

Pemimpin tim ini lalu berlutut lagi dan menggunakan kepalanya melalui celah-celah sempit untuk mencari sedikit ruang di bawah mayat wanita tersebut. Tiba-tiba, ia berteriak dengan gembira, “Anak kecil! Ada anak kecil!”

Lalu seluruh tim bekerja bersama-sama, dengan hati-hati mereka menyingkirkan tumpukan benda hancur di sekitar wanita yang sudah meninggal. Ada seorang anak kecil berusia 3 bulan terbungkus selimut bunga-bunga di bawah mayat ibunya. Jelas, wanita itu telah membuat pengorbanan untuk menyelamatkan anaknya. Ketika rumahnya jatuh, ia menggunakan tubuhnya untuk membuat penutup untuk melindungi anaknya. Anak itu masih tidur pulas ketika pemimpin tim mengangkatnya.

Para dokter datang cepat untuk mengevakuasi anak kecil itu. Setelah ia membuka selimut, ia melihat sebuah ponsel di dalam selimut. Ada pesan teks pada layar.
Dikatakan, “Jika kamu dapat bertahan hidup, kamu harus ingat bahwa aku mencintaimu.”

Ponsel ini berkeliling dari satu tangan ke tangan yang lain pada tim itu. Setiap tubuh yang membaca pesan tersebut menangis. “Jika kamu dapat bertahan hidup, kamu harus ingat bahwa aku mencintaimu.” Itu artinya cinta ibu untuk anaknya!



Friday, June 6, 2014

Kedamaian Sejati

Ada seorang raja yang akan memberikan hadiah pada seniman yang dapat membuat suatu lukisan terbaik tentang kedamaian. Banyak seniman yang mencoba. Raja melihat semua lukisan itu. Tetapi hanya ada dua yang ia suka, dan ia harus memilih salah satu di antaranya.

Salah satu lukisan menggambarkan danau yang tenang. Danau itu bagaikan cermin yang sempurna bagi gunung-gunung yang menjulang tinggi di sekelilingnya. Di atasnya langit biru dengan awan di sana-sini. Semua orang yang melihatnya akan berpendapat itulah lukisan yang sempurna tentang kedamaian. Lukisan yang satu lagi menggambarkan gunung-gunung juga, tetapi tampak tegak, angkuh dan kasar. Langit hitam berawan gelap, ada halilintar di situ. Di bawah ada air terjun yang airnya bergejolak. Tampak tak ada kedamaian sama sekali.

Tetapi raja melihat di belakang air terjun ada sarang burung. Di antara riak gejolak air, duduk seekor induk burung yang sedang memberi makan pada anaknya dengan penuh kedamaian. Lukisan yang mana yang Anda kira akan menang? Raja memilih lukisan yang kedua.

Karena, kata raja, damai bukan berarti tempat yang tidak ada kegaduhan, permasalahan dan kerja keras. Kedamaian berarti bila di tengah-tengah semuanya itu tetap ada ketenangan di hati Anda. Itulah makna sejati kedamaian.

Kedamaian hati, adalah hadiah bagi insan yang teguh dalam berkebaikan. Ia tak bisa dibeli, begitu pun ia tak bercampur dengan keburukan. Tak mesti ia bersemayam dalam kesenangan, bahkan kadang justru ia hadir dalam kesulitan.

Sebab memang bukan pada kemudahan dan kesenangan itu selalu terdapat kedamaian. Bukan pula kesulitan dan musibah melulu berurusan dengan kegelisahan. Kata kuncinya adalah kebaikan. Di jalan-jalan kebaikan, kesenangan dan kesusahan sama belaka. Kedamaian bisa terasa, meski berbentuk peluh atau senyuman.

Maka bukanlah damai itu dicari dari luar. Ia ada di dalam semata. Terasa setitik demi setitik, lalu meluas hingga menembus batas-batas diri. Ia tak didapat, melainkan diusahakan. Ia alamiah semata. Buah dari pohon kebaikan yang dirawat sepenuh sungguh, hingga kala tiba saat berbuah, jauh ia dengan sendirinya, meski tak sedikit usaha mengambilnya.

Kedamaian, bukanlah hadir sebab apa yang kau genggam, melainkan sebab apa yang kau lepas. Kala kau lepas dunia, tubuhmu meringan, jiwamu melayang, menembus langit tanpa halangan. Perhatikanlah dia yang damai, niscaya kau dapati selalu sibuk memberikan daripada mengumpulkan.